Kutub Beresiko Tinggi Terdampak Aktivitas Matahari Seperti Badai Matahari, Bagaimana Indonesia?

- Jumat, 17 September 2021 | 20:31 WIB
Ilustrasi Badai Matahari.  (Dok. Hindustanrimes)
Ilustrasi Badai Matahari. (Dok. Hindustanrimes)

HALLO INDONESIA - Badai Matahari (flare dan CME) sebenarnya sudah sering (ribuan kali) terjadi di era modern.

Matahari merupakan bintang yang aktif memancarkan energinya ke seluruh penjuru tata surya, baik berupa pancaran gelombang elektromagnetik, maupun partikel berenergi tinggi.

Sebagian energi Matahari yang dilepaskan sebagai ledakan dapat membawa dampak terhadap kondisi cuaca antariksa.

Baca Juga: Sejarah Kota Kuningan yang Sempat Menjadi Pusat Kerajaan Sunda di Bawah Rakean Darmasiksa

Terdapat beberapa aktivitas Matahari yang dapat memberikan indikasi tingkat keaktifannya.

Seperti bintik matahari, solar flare, lontaran massa korona atau coronal mass ejection (CME), dan angin Matahari.

Sebagian kecil peristiwa flare dan CME telah mengakibatkan gangguan komunikasi, kelistrikan, navigasi, dll, tapi sebagian besar tidak dirasakan dampaknya.

Baca Juga: Daftar Lengkap 11 Nama-nama Calon Hakim Agung yang Diserahkan ke DPR RI

Isu “kiamat akibat badai matahari” ini kerap kali digunakan untuk menakut-nakuti orang awam atau sekedar untuk menjadi “clickbait”.

“Matahari memiliki siklus yang berlangsung sekitar 11 tahun. Pada saat mencapai fase puncak siklus, aktivitas di Matahari meningkat sehingga gangguan terhadap cuaca antariksa juga meningkat,” ujar Johan Muhammad.

Halaman:

Editor: Budi Purnomo

Sumber: LAPAN

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X