Mencium Gelagat Adanya Rekayasa Jahat untuk Pemilihan Presiden 2021, Semoga Salah

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 17:05 WIB
Ilustrasi Pemilu 2024. (Dok. Hallo.id/M. Rifa'i Azhari)
Ilustrasi Pemilu 2024. (Dok. Hallo.id/M. Rifa'i Azhari)

HALLO INDONESIA - Meski terlalu dini berbicara Pilpres 2024 namun gejala Pilpres 2024 sarat rekayasa sudah terbaca. Kepentingan dominan Istana sangat terasa.

Di tengah wacana perpanjangan masa jabatan Presiden tiga periode melalui amandemen UUD 1945 atau perpanjangan masa jabatan hingga tahun 2027 dengan alasan pandemi, skenario Pilpres 2024 juga disiapkan. Istana berjuang untuk tetap "berkuasa".

Pertama, Presidensial Treshold 20 % adalah awal untuk mempertahankan kekuasaan kubu status quo.

Baca Juga: Hasan Sidik Menang di Nomor Greco-Roman, Gulat Jatim Penuhi Target 6 Emas

Meski aneh dan dibuat-buat namun Presidensial Treshold 20 % itu efektif untuk menjaga kemapanan kekuasaan oligarkhi.

Dengan minim pasangan dalam kompetisi maka lebih mudah cukong untuk bermain dengan kecurangan yang sistematik dan terproteksi.

Kedua, banyaknya Kepala Daerah yang habis masa jabatan pada tahun 2022 lalu ditetapkan Penjabat Kepala Daerah baik Propinsi maupun Kota/Kabupaten membuat tangan Presiden, melalui Mendagri, lebih leluasa menjangkau para Gubernur atau Walikota/Bupati "tunjukan" tersebut. Kepala Daerah strategis untuk penggiringan suara Daerah.

Baca Juga: Dari Dulu Malas Bicara Kereta Cepat Jakarta-Bandung, karena Bagi Saya Tidak Masuk Akal

Ketiga, Ketua Tim Seleksi KPU adalah mantan Tim Sukses pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Meskipun Tim Seleksi formalnya bersifat kolektif akan tetapi prakteknya Ketua Tim memiliki posisi menentukan.

Halaman:

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X